Rabu, 27 Mei 2015

Pelataran Toko di Ngawi, Jawa Timur


Masa liburan ku sewaktu kecil, ku habiskan di kota timur pulau Jawa. Ngawi, Madiun, Magetan kota yang hampir setiap perayaan hari besarku, ku sambangi.

Tepatnya sekarang, namun bukan disaat libur hari perayaan aku menyambangi kota Ngawi setelah tahun-tahun ku lalui tanpa menyapanya.  

Kota ini terasa lebih ramai, toko-toko tertutup enggan menyapa pelanggan di hari Minggu. Terik, peluh keringat sudah biasa menetes di salah satu kota di Jawa Timur ini.

Dinding-dinding toko terlihat memudar dari warnanya, bahkan cat nya pun sudah mengelupas, pelataran-pelataran toko sudah terparkirkan sepeda motor modern, bukan lagi sepeda ontel atau pun sepeda motor berwarna merah antik.  

Kutemani seseorang menghampiri salah satu toko alat tulis, pemiliknya keturunan Tionghoa dan pribumi. Anak-anaknya bergerombolan menyapa, anak-anak anjing yang terlalu cerewet ikut bercerita. Aku seperti berada di jaman 60an. Dan mengingatkanku pada sebuah film Indonesia, Gie karya Riri Riza.  

Tak lama perbincangan kami, lalu ku putuskan melanjutkan perjalanan menuju kota lain di timur pulau Jawa.  


"Kembalilah sesekali ke kota dimasa kecil mu, maka kerinduan mendalam akan terasa"
- MelipirSebentar -


Jumat, 08 Mei 2015

Rest Area, Antara Madinah Dan Mekkah



Hampir tidak ada pohon disana hanya sedikit rerumputan, saat aku menyadari bahwa perjalanan ku hampir tiba di kota Mekkah.  

Bis yang aku tumpangi tiba-tiba berhenti. Pengendara bilang, "waktunya untuk istirahat, sudah setengah perjalanan dari kota Madinah ke Mekkah". Aku sendiri pun sudah sedikit lupa jam berapa saat itu, yang aku ingat sejenak sebelum senja datang.  

Seperti yang aku bilang tadi, hampir tidak ada pohon disini, ada bangunan yang tidak tingkat dan tidak besar, aku rasa bangunan itu hanya berisi dapur. Karena kita yang melipir hanya menikmati udara bebas di teras bangunan itu. 

Ada kursi-kursi dan meja plastik yang susah ditata, ada kabel-kabel listrik yang mengelilingi tiang penyangga. Aku rasa jika gelap datang maka lampu-lampu kecil yang terselubung diantara kabel listrik akan berpijar dengan cantik.  

Ada yang sudah menawari ku teh hangat saat itu, sebetulnya aku lebih menyukai jika ada es batu didalam cangkir ku. Dan beberapa orang di samping ku sudah sibuk menghabiskan mie instan yang kuahnya masih mengepul.  

Kalau saja saat itu aku sedang solo travel, mungkin akan banyak waktu ku habiskan disana, sekedar menikmati teh hangat atau kentang goreng, atau mungkin aku akan menghabiskan uang ku dengan membeli ayam asapnya.  

Tidak banyak yang bisa kamu lihat di tempat ku saat itu, hanya ada padang pasir, beberapa bangunan tak bertingkat,  kendaraan yang sesekali melintas, langit yang luas, dan matahari yang mulai terbenam. Matahari membulat dengan sempurna, angin berhembus dengan teratur, dan suara hanya sayup terdengar. Namun sayangnya aku hanya punya sedikit waktu untuk menikmati matahari dengan teh hangat, karena perjalanan belum usai.  


"Ketika terlalu banyak tempat yang ingin kamu kunjungi, sehingga itu membuatmu bingung. Maka, pilihlah tempat yang paling tidak banyak dipilih orang lain. Karena kamu akan mendapatkan langit udara dan daratan yang istimewa menghiburmu"
- MelipirSebentar -


Selasa, 10 Maret 2015

Jabal Rahmah, Mekkah



Ketika sebuah kesalahan berakhir dalam perpisahan. Bertahun-tahun menghilang dalam rindu yang menyesakkan. Rindu dalam cinta seperti perjalanan yang kosong.

Mereka tak lagi bertemu, setelah Tuhan menyuruhnya menapaki bumi. Sendiri, hanya ada bayang yang menemani. Mencari diantara rasa penasaran, hawa dimana dia?

Adam merasa kosong, begitu juga dengan hawa.

Jabal Rahmah, jawaban dari rasa rindu. Mereka tidak mempertanyakan tahun-tahun yang terlewat. Kekosongan terhapus ketika diatas sana mereka bertemu.

Dan tugu itu dibuat atas kenangan rasa cinta. Sang penerus-penerus berlomba menapaki bukit itu, meminta agar kisahnya menjadi indah. Tidak ada pengecualian dengan usia, mereka saling membantu menuju puncak bukit.

Hingga ku lihat seorang bapak tua yang menggandeng wanita muda menuju atas bukit. Mereka bukan pasangan ayah dan anak, bukan juga kakek dan cucu, atau malah pasangan kekasih. Mereka hanya 2 manusia yang baru saja kenal, dan kebetulan mereka dalam perjalanan yang sama.


"Cinta bukan milik sepasang kekasih dalam cumbuan, atau milik dekapan sebuah keluarga. Cinta juga ada untuk mereka yang tidak saling kenal, untuk merasakan damainya hidup sebagai makhluk ciptaan-Nya"
- MelipirSebentar -


Jalan Malioboro, Yogyakarta



Ini kali pertama saya berjalan sendirian di sini. Dan sangat jelas bahwa saya bukan berasal dari kota ini, hanya beberapa hari saya ikut perjalanan liburan kakak saya. Dan nyatanya, sekarang saya berjalan sendirian di pinggiran jalan Malioboro ini, kakak saya? Sudah terlelap dalam demam flu nya.

Ramai, disaat bukan musim liburan tetapi masih saja pelataran toko-toko penuh dengan manusia. Menawar baju, sendal, kalung, tas, miniatur segala rupa, hingga makanan.

Saya tetap berjalan, melihat manusia-manusia tersenyum dalam aroma romantisme kota cinta ini. Dalam alunan tembang jawa, suara-suara dalam bahasa yang tak asing, dan angin semilir membawa bau khas akan hujan.

Tak lama dari itu hujan turun, bukan gerimis yang menemani senandungan langkah ini. Banyak yang melipir dari hujan, dalam genggaman-pelukkan kekasih. Dan saya mencari tempat makan di pelataran Malioboro.


"Bergandenganlah kalian di kota yang romantis" 
- MelipirSebentar -